Warga Keyongan Grobongan Tandu Lansia Sakit 2,5 Km Gegara Jalan Rusak

Grobogan – Viral beredar di media sosial video bernarasi warga Dusun Geri, Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan menandu seseorang yang sakit dengan berjalan kaki karena jalan rusak. Begini penjelasan kepala desa. Video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Instagram @infogrobogan.id. Dalam narasinya, akun itu menyebut aksi gotong royong warga tersebut dikarenakan jalan yang rusak dan tidak bisa dilalui mobil.

“Aksi gotong royong warga Dusun Geri, Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan viral di media sosial. Warga terpaksa menandu seorang warga yang sakit untuk dibawa menuju layanan kesehatan karena kondisi jalan rusak dan tidak bisa dilalui mobil,” tulis takarir unggahan tersebut, dilihat goodmoodzone pada Selasa (17/3/2026).

Terlihat dalam video itu empat orang laki-laki sedang berjalan kaki menandu seseorang yang sedang sakit. Tandu rakitan itu terbuat dari kursi panjang yang diikat balok kayu pada bagian depan dan belakangnya agar bisa dipanggul.

Seseorang terlihat terbaring berselimut jarik di atas kursi panjang yang sudah diberi alas karpet itu. Tampak juga seorang laki-laki memayungi orang tersebut.

Kepala Desa Keyongan, Budi Hartono membenarkan peristiwa tersebut terjadi di wilayahnya. Menurutnya, kejadian itu sudah beberapa hari lalu.

“Niku kejadiane nggih (kejadiannya) tiga hari yang lalu,” kata Budi saat dimintai konfirmasi goodmoodzone melalui sambungan telepon, Selasa (17/3/2026).

Budi menjelaskan orang-orang itu sedang menandu lansia yang sakit dari wilayah permukiman yang terisolasi. Untuk menuju wilayah itu, masyarakat harus melewati jalan hutan.

“Sakitnya enggak tahu, sakit sepuh (sudah lanjut usia) itu kok. Niku memang (permukiman) terisolasi, di Dusun Geri RT 11 RW 2. Jalan niku nggih jalan di hutan, mboten jalan desa (jalan yang dilalui jalan hutan bukan jalan desa),” ujar Budi.

Budi menuturkan panjang jalan rusak itu mencapai 2,5 kilometer. Sejauh itu pula warga menandu lansia sakit tersebut.

“Ditandu 2,5 kilometer, sampai jalan desa. Kemudian dinaikkan mobil di bawa ke rumah sakit,” jelas Budi.

Budi membenarkan jalan tersebut dalam kondisi rusak sehingga tak bisa dilalui kendaraan roda empat saat musim penghujan. Selain itu, medan jalan yang cukup sulit juga membuat kendaraan roda empat susah melintas.

“(Jalannya) naik turun. (Kendaraan roda empat) bisa (melintas) kalau kemarau. Kalau hujan kan nggak berani ya, karena lokasinya naik turun dan terjal kan nggak berani,” tutur Budi.

Terkait kondisi jalan rusak itu, Budi mengaku pihaknya tak bisa berbuat banyak karena jalan hutan tersebut menjadi kewenangan dari Perhutani.

“Itu kewenangannya Perhutani wong jalan di tengah hutan. Statusnya kan jalan hutan itu, bukan jalan desa,” terang Budi.

Kendati demikian, Budi menyebut pihaknya sudah mengupayakan perbaikan jalan lewat sumber anggaran lain. Selama dirinya menjabat, sudah diupayakan perbaikan jalan dengan makadam sebanyak tiga kali.

“(Anggaran) dari aspirasi banprov (bantuan provinsi) saya arahkan ke situ. Sudah diperbaiki makadam sampai tiga kali, terakhir 2024,” ungkap Budi.

Meski sudah diperbaiki dengan makadam, menurut Budi, jalan itu kembali rusak karena dilewati truk pengangkut tebu bertonase tinggi. Selain itu, ia juga menyebut warga enggan melakukan perawatan makadam.

“Yang menghancurkan (jalan) itu (truk) tebu malah, karena muatan tebu itu pasti minimal itu 7 ton, 8 ton,” kata Budi. “Masyarakatnya sendiri sudah dibantu, ndak mau swadaya, perbaikan sedikit-sedikit ndak mau. Katanya urusane pemerintah kan jadi sudah dibiarin aja,” tambahnya.